Selasa, 13 Oktober 2015

Surat Terbuka Seorang Ibu Korban Asap di Riau Kepada Jokowi


Inilah sebuat surat Terbuka kepada Presiden Joko Widodo dari seorang bernama Afni Zulkifli, Ibu satu anak berusia 3,5 Tahun. Sangat gamblang memaparkan hal asap yang terjadi di Riau alias Tanah Lancang Kuning. Selamat membaca:

Jangan sampai korban asap terfitnah hujan sesaat. Yakinkan saya, bahwa ini bukan genosida.
——
Selamat pagi Pak Jokowi, gimana tidurnya tadi malam di Sumatera? Semoga segar ya Pak. Soalnya hujan turun berkali-kali. Luar biasa! Rakyat Riau yang jadi korban asap, setelah dua bulan lebih, akhirnya dapat melihat matahari lagi. Kedatangan Bapak, lebih ‘makbul’ mengalahkan jutaan doa kami.Pak, mumpung udara lumayan segar, saya ingin sedikit bercerita. Saya lahir di sebuah kota kecil, Siak namanya. Dulu saat saya SD, kami diajari bahwa Indonesia hanya punya dua musim, panas dan hujan. Saat panas akan terjadi kemarau, sedangkan bila hujan akan ada ancaman banjir. Tapi sejak menginjak bangku SMP, kami mengenal musim lain lagi, namanya musim kebakaran hutan. Ancamannya asap akan ada dimana-mana. Dan itu kisah 17 tahun lalu Pak.Selama 17 tahun juga, kami tak pernah merasakan 365 hari udara segar. Karena akan ada masa, dimana sinar matahari bahkan tak bisa tembus menyinari tanah kami. Semuanya mendadak akan terlihat seperti negeri di atas awan. Padahal aslinya asap.

Dulu yang kami tahu, bila ada lahan terbakar, hanya akan dipadamkan secara gotong royong. Tetangga datang buat menolong. Tapi itu duluuuuu sekali Pak, saat musim asap hanya muncul sesaat. Karena sejak beberapa tahun terakhir, bahkan tahun ini, asap semakin menjadi-jadi. Tahun paling terngeri, karena berbulan-bulan asap tak mau pergi. Ia betah di negeri kami.

Jadi Pak, sebenarnya dulu negeri kami tak begini. Tanyalah sejarah, kenapa bisa begitu?

Pak, apakah rakyat Indonesia tahu, kalau sekarang ada istilahnya water bombing atau bom air. Cara kerjanya, helikopter akan membawa semacam tabung air yang digantungkan di bawah heli. Lalu helikopternya terbang ke sumber air, mengangkut air dan menyiramkan air di titik api yang ada.

Kira-kira, masyarakat Indonesia tau gak ya, betapa sulitnya cara kerja helikopter itu. Sang pilot harus bolak balik, dari sumber air ke titik api, berkali-kali, dengan gerak yang cukup terbatas. Karena harus menjaga jarak pandang dan ketinggian dari batas panas. Tahu gak ya, ketika api membara dan asap kian pekat, helikopter itu tak bakal dapat terbang. Jadi pada waktu tertentu, sebenarnya ribuan titik api itu hanya dibiarkan begitu saja?

Meski begitu Pak, saya menaruh hormat pada tim pemadam. Khususnya yang di darat. Mereka pahlawan kami, karena berjibaku mempertaruhkan nyawa, demi memadamkan titik api tiada henti. Saya kadang terharu Pak, berbulan-bulan anggota Manggala Agni, Polisi dan TNI, terjun berjibaku melawan api. Kadang mereka hanya tidur di tenda, meninggalkan anak dan istri. Mereka di garda terdepan sumber bencana.

Tapi kira-kira mereka tahu gak ya Pak, jika jumlah titik api yang mereka padamkan itu ribuan, dengan luasan ratusan hektar? Satu dipadamkan, masih ada ribuan titik api lainnya membara. Kasihan ya Pak mereka.

Perihal heli tadi yang bakal tak bisa terbang pada waktu tertentu, apakah masyarakat Indonesia tahu, bahwa ‘diamnya’ heli tetap ada biayanya. Karena mayoritas helikopter untuk mengatasi bencana, ternyata bukanlah milik kita. Melainkan milik asing yang disewa. Pilot dan semua kru di dalamnya, rata-rata para bule yang berasal dari perusahaan sewa menyewa helikopter. Dan BNPB mengakui, bila harga sewanya mencapai USD6.000 atau sekitar Rp84 juta, per jam! Mahal banget ya Pak. Gak kebayang deh, andai dalam sehari disewa 5 jam saja, artinya Rp420.000.000. Dikali tiga bulan sejak kebakaran kian meluas. Lalu dikali lagi bertahun-tahun sejak kebakaran lahan dan hutan. Wuiiiiiih, itu dibayar pake duit semua kan Pak, bukan daun toh? *ngiler saya bayangin fulusnya.

Tapi itu belum seberapa, ada lagi nih istilah modifikasi cuaca. Cara kerja pastinya, silahkan browsing sendiri di Mbah Google. Secara sederhana, berton-ton garam, akan diangkut menggunakan pesawat jenis Cassa, lalu garam itu ditaburkan di atas langit suatu daerah, dengan tujuan agar terkumpul awan yang bisa mendatangkan hujan. Cara kerjanya juga suliiiiiiit sekali. Karena harus benar-benar terprediksi, bila tak ingin hanya menabur garam sia-sia. Banyak pihak harus dilibatkan dalam misi ini.

Kira-kira, rakyat Indonesia tahu gak ya, kalau modifikasi itu muahaaaal sekali. BNPB melansir, untuk 90 hari kerja saja, dibutuhkan anggaran hingga Rp40 miliar. Artinya dengan kalkulasi sederhana, dalam sehari dibutuhkan biaya modifikasi cuaca bernilai ratusan juta, hanya untuk ‘membuang’ garam. Luar biasa.

Dan untuk dua kegiatan itu, BNPB tahun ini saja, sudah menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp385 miliar. Itu kabarnya hanya di Riau saja (tolong koreksi bila saya salah, maklum Pak, saya copas dari media online yang ada aja). Dan bila masuk situasi tanggap darurat seperti sekarang, katanya biaya yang tersedia bahkan sampai ‘tak berbatas’….Ck..ck…ck…

Lalu Pak Jokowi, tahu gak ya kira-kira rakyat Indonesia, bahwa dana yang luar biasa dahsyat itu, hanya ada untuk penanggulangan saja. Coba deh kita buka-bukaan, tanya pada Kementrian terkait dan para kepala daerah, berapa anggaran yang tersedia untuk upaya pencegahan bencana? Berapa biaya mencegah rakyat dan perusahaan agar tidak membakar saat membuka lahan? Berapa biaya membuat kanal-kanal, mencegah titik api tidak makin membesar di lahan perkebunan? Berapa biaya sosialisasi, mencegah anak-anak tak ngotot berkeliaran saat asap datang? Berapa biaya untuk rakyat yang penyakitan, khususnya Lansia dan Ibu Hamil, mencegah korban berjatuhan dan mencegah bayi-bayi lahir idiot. Berapa biaya pencegahan bencana di negeri kami sebenarnya?

Logika bodoh saya sebagai rakyat nih Pak, jika anggaran untuk penanggulangan asap tiap tahun terus meningkat, dengan nilai yang juga luar biasa dahsyat, artinya bencana ini sudah diprediksi jauh sebelum bencana benar-benar terjadi. Karena yang namanya anggaran dalam jumlah besar, pasti harus melalui usulan, pembahasan di DPR dan segala tetek bengek birokrasi serta drama politisasi lainnya.

Semoga logika saya benar-benar bodoh ya Pak. Karena jika ternyata kebodohan itu benar adanya, tentu wajar jika saya katakan, ini bukan lagi bencana, tapi genosida.

Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.

Pak, saya aja ngeri sendiri membaca definisi genosida, yang memang beberapa diantara poinnya sudah kami alami. Meski cuma sebagian kecil.

Seperti pada poin ini, dengan logika bodoh dan naif saya:

– Untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok. (Sebagian kami sudah berjatuhan jadi korban, baik materi maupun nyawa)

– Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya. (Sebagian kami sudah didera penyakit asma akut, fisik lemah bertahun-tahun menghirup asap)

– Melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.
(Sebagian kami, melahirkan anak-anak yang terancam idiot. Anak-anak kami juga dipaksa untuk tidak sekolah, tidak keluar rumah. Terkurung asap)

Mudah-mudahan saja itu cuma logika bodoh saya. Maklumlah, 17 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Saya merasakan asap sejak masih perawan hingga jadi Ibu satu anak. Mungkin otak saya kini sudah mulai rusak. Karena semua ahli kesehatan sepakat, bahwa asap bisa sampai meracuni otak manusia, bahkan sudah menggangu sejak masa pertumbuhan janin dalam kandungan.

Ancaman bayi lahir idiot di negeri kami besar Pak. Belum lagi pendidikan yang lumpuh berbulan-bulan. Maaf Pak, kecurigaan saya wajar kan? Jika tak wajar, tolong jangan tangkap saya ya Pak. Kasihan nanti Hanina, putri kecil saya itu. Karena Bundanya cuma bertanya dengan logika sederhana ala rakyat jelata.

Tapi ini pertanyaan serius Pak, apakah dengan ikhtiar bom air dan modifikasi cuaca itu, ada jaminan bencana asap di negeri kami bisa hilang selamanya? Nyatanya asap cuma akan hilang sesaat saja. Nanti pasti akan muncul kebakaran lagi, asap lagi, dan pasti akan tersedia dana lagi. Jika begitu, sungguh betapa mahalnya udara segar di negeri kita ya Pak? Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi.

Saya cuma khawatir Pak Jokowi, udara segar yang turun dari hasil hujan buatan, akan membawa fitnah pada kami, jutaan rakyat di negeri bencana. Serius Pak, di balik rasa syukur turunnya hujan (terlepas buatan atau asli), kami jadi khawatir bila nantinya kami disebut lebay.

Saat Bapak dan jajaran menteri ke Riau, lalu disambut turunnya hujan, pasti partikel asap akan jauuuuuuuh berkurang. Saya khawatir, Menteri Kesehatan Bapak yang ‘bibirnya tipis itu’ akan koar-koar berkata ‘Tuh kan, apa saya bilang, asapnya di sana gak berbahaya. Buktinya saya bisa balik Jakarta masih sehat wal afiat’. Saya juga khawatir, Bapak pun akan berpikir yang sama.

Yang lebih saya khawatirkan lagi, tentu rakyat Indonesia akan mengatakan ‘Alhamdulillah, bencana di Riau sudah berlalu’. Tapi tahukah kira-kira mereka Pak, bahwa hujan yang turun itu, setiap tetesnya, adalah reinkarnasi uang hasil pajak mereka?! Tahukah mereka, bahwa kami sudah sering sekali merasakan hujan, tapi setelahnya kembali merasakan asap pekat, bahkan jauuuuuh lebih pekat dari sebelumnya. Kira-kira mereka tau gak ya soal itu Pak?

Tahukah kira-kira rakyat Indonesia, kalau hujan sesaat bukan berarti akan menghilangkan titik api selamanya. Karena mayoritas lahan yang terbakar, adalah lahan gambut dengan tingkat kedalaman 5 hingga 15 meter. Api disiram dari atas, sesaat memang padam, tapi sumber api sesungguhnya justru ada di kedalaman lahan gambut itu. Api itu tidak menyala, tapi membara! Tetap membara!

Dan air yang disiram sesaat, hanya akan menambah asap kian pekat. Saat Bapak Presiden dan rombongan pulang nanti ke Jakarta, kami masih akan termengap-mengap karena asap. Kira-kira masyarakat Indonesia, percaya gak ya dengan penjelasan sederhana saya? Maklumlah Pak, saya bukan siapa-siapa. Hanya rakyat biasa.

Saya khawatir Pak, nanti rakyat Indonesia mengatakan saya dan jutaan rakyat Riau tidak tahu terimakasih, tidak pandai bersyukur. Dikasi hujan dicurigai, tak dikasi hujan pemerintah dicaci maki. Duh, maafkan saya Pak. Maafkan, karena kami rakyat Riau tidak bermaksud begitu.

Maklumlah Pak, ini bencana sudah 17 tahun. Wajar toh kalau kami sudah bosan dikibuli, dikasi janji-janji bakal tak ada asap lagi. Bapak akhir tahun lalu saja berkata, bahwa mengatasi bencana asap itu mudah saja dan September 2015 ditargetkan semua asap lenyap. Tapi buktinya, malah di bulan yang bapak janjikan itu,bencana asap menjadi yang paling terparah sepanjang sejarah. Terpaksa deh kami gigit dua jari!

Jadi wajar toh Pak, kalau yang kami inginkan bukan lagi bom air atau hujan buatan. Kasihan Pak, jika pajak yang dibayarkan rakyat Indonesia, hanya habis untuk bencana yang disengaja. Karena BNPB mengatakan bahwa 99,9 persen lahan kebakaran, bukan karena terbakar tapi DIBAKAR. Rasanya sungguh tidak adil Pak, jika akibat ulah sekelompok orang, dosanya harus dicicil seluruh rakyat negeri ini. Titik api luar biasa, asap dimana-mana, penjahatnya mana?

Jadi Pak, yang kami butuhkan solusi. Sekonkrit-konkritnya! Penyelesaian masalah dari hulu hingga ke hilir. Agar tahun depan, kami tak lagi menghirup asap. Agar kami terhindar dari dosa, mencurigai negara sedang melakukan genosida. Jujur Pak, saya sungguh takut dosa.

Saya juga takut Pak, jika nanti terlalu banyak doa dari rakyat untuk anda. Karena sebuah hadist mengatakan, doa orang yang terdzolimi tidak ada pembatas antara doanya dengan Tuhan. Bapak gak takutkah? Mengingat Bapak pemimpin tertinggi di negara ini. Kalo saya mah takut Pak. Makanya saya cuma berani jadi rakyat, gak berani jadi Presiden. Pernah ada sih Pak yang sarankan saya jadi Walikota atau Bupati, tapi sekali lagi Pak, saya tahu diri.

So, selamat menikmati Sumatera ya Pak Jokowi. Gimana rendang Padangnya? Mudah-mudahan enak ya Pak. Mohon nanti kalo pulang, asapnya dibawa serta ke ‘Jakarta’. Agar langit kami benar-benar biru dan para korban asap tak lagi termengap-mengap. Salam untuk Bu Menkes ya Pak. Terimakasih sudah mengimpor 6 ribu masker N95. Meski saya gagal mengerti, bukankah kemarin baru saja Bu Menteri berkata, masker biasa lebih bagus dari N95. Lalu ngapain tetap diimpor sebanyak itu ya? Entahlah Pak, semakin banyak menulis, semakin banyak saya curiga, semakin pula saya berdosa.

Salam hormat saya untuk Ibu Negara. Semoga selalu sehat.

Salam
Afni Zulkifli, Ibu dari seorang putri 3,5 Tahun.
087780483113-08526399078

(ts/dimuat ulang dari pribuminews.com/Eramuslim/netnit.net)