Selasa, 13 Oktober 2015

Ulat dan Pohon Mangga

Seekor ulat yang kelaparan terdampar di tanah tandus. Dengan lemas ia hampiri pohon mangga sembari berkata, “Aku lapar, bolehkah saya makan daunmu? ” 
Pohon mangga menjawab, “Tanah disini tandus, daunku juga sedikit. Jika kau makan daunku, kelak bakal berlubang serta tak terlihat cantik lagi. Lantas saya mungkin saja bakal mati kekeringan. Hmmm… namun baiklah, kau bisa naik serta mengonsumsi daunku. Mungkin saja hujan akan tiba serta daunku bakal tumbuh kembali. ” 
Ulat naik serta mulai makan daun-daunan. Ia hidup diatas pohon itu hingga jadi kepompong serta pada akhirnya beralih jadi kupu-kupu yang cantik. 
“Hai pohon mangga, lihatlah saya telah jadi kupu-kupu. Terima kasih lantaran sudah mengizinkan saya hidup di badanmu. Juga sebagai balas budi, saya bakal membawa serbuk sari sampai bungamu bisa berbuah. ” 
Dalam kehidupan kita kerap mempertimbangkan untung rugi pengorbanan yang dikerjakan. “Jika saya berikan, saya bakal kekurangan. Bagaimanakah mengatasinya? ” Atau, “Bagaimana bila nyatanya saya ditipu? ” 
Namun sadarkah kita, tiap-tiap kita berikan, ada sepercik sukacita di hati? “Lakukan apa sebagai bagianmu, serta janganlah memikirkan apa yang bakal kita bisa. ” Apabila mau berikan, kerjakan saja lantaran seluruhnya bakal kembali pada kita juga.