Jumat, 06 November 2015

Masih Takut Punya Banyak Anak??? Baca Kisah Ini Semoga Terinspirasi



bersamaislam.com - Allah Maha Kaya dan Allah Maha Memberi. Tidaklah ada yang melata di muka bumi ini kecuali sudah dijamin Allah rezekinya. Begitulah hikmah yang bisa diambil dari perjuangan seorang ibu di Malaysia dalam membesarkan enam belas orang putra putrinya. Allahu Akbar.

Mak Khadijah (bukan nama sebenarnya), 65 tahun, warga Kelantan, Malaysia. Dia menikah pada usia 15 tahun atau tepatnya pada tahun 1965 yang lalu. Dengan izin Allah SWT, pada tahun 1991 Khadijah mengandung anaknya yang ke-16. Anak pertama hingga ke-11 adalah laki-laki sedangkan yang berikutnya berjenis kelamin perempuan.

Seperti dituturkan oleh salah seorang putranya, Mohd Yazid Ismail di Facebook (29/09/2015), sejak ayah mereka diserang stroke pada tahun 1991 kehidupan ekonomi keluarga terguncang. Ayah tidak bisa lagi bekerja sedangkan ibu tengah mengandung. Jangankan bekerja, sejak mengalami kelumpuhan praktis kebutuhan pribadi ayah seperti mandi harus selalu dibantu.

Pihak mesjid ketika itu memberikan uang santunan sebesar 150 ringgit (sekitar 500 ribu rupiah dengan kurs saat ini) setiap bulan. Dan itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan seluruh keluarga termasuk pengobatan ayah yang sedang lumpuh.
"Mak besarkan kami dan dalam masa yang sama uruskan ayah yang lumpuh dengan seratus lima puluh tu. Macam mana boleh survive? Ni semua urusan Allah. Semua rezeki dari Allah," tulis Yazid, sembari mengutip Al-Qur'an surat Isra ayat 31.

(وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا)

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu (orang tua). Sesungguhnya perbuatan membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

Yazid menceritakan salah satu rezeki yang diberikan Allah kepada ibunya adalah kesadaran seluruh anak-anak untuk menjaga sholat berjamaah dan hidup mandiri. Sejak kecil mereka sudah terbiasa untuk bekerja; menjadi buruh, menjual barang rongsokan (botol dan kaleng bekas) dan bertani. Itu semua dilakukan sambil tetap sekolah.
"Walaupun kami masa masih bersekolah dan sangat sibuk dengan mencari duit tapi kami tetap ke masjid solat jemaah. Kami cuma dapat belajar ketika di sekolah sahaja kerana di rumah kami sibuk dengan kerja dan mengasuh adik-adik yang masih bayi. Namun, syukur semuanya kini cemerlang dalam pelajaran," ungkap Yazid.

Ibu juga mengajarkan mereka untuk tidak mengeluh dan tidak berhutang meski dalam keadaan sulit. Keterbatasan disiasati dengan apa yang ada. Hingga tahun 2001, Yazid dan saudara-saudaranya masih mengumpulkan kayu bakar di hutan untuk memasak. Tidak ada orang lain yang memasak dengan kayu bakar ketika itu. Makan tanpa lauk sudah jadi menu rutin harian. Hanya dengan gula dan garam sudah menjadi kenikmatan hidup mereka.

Bukan berarti semua bisa dilalui dengan mudah karena menurut Yazid, dia juga kerap melihat ibu menangis sendirian. Sesuatu yang tidak akan dilakukannya di depan anak-anak. Kepada anak-anak ibu senantiasa mengingatkan untuk ke mesjid dan membantu orang tua.
"Alhamdulillah, beban emak sedikit ringan apabila abang-abang di universiti mengirim duit biasiswa masing-masing untuk adik-adik di kampung. Pernah abang saya cerita, dia sanggup ikat perut semata-mata untuk hantar duit ke kampung," tambahnya.

Mereka semua 16 orang bersaudara akhirnya berhasil menamatkan sekolah hingga ke jenjang universitas. Salah satu pesan dari ayah yang terus diingat oleh Yazid adalah untuk selalu menjaga sholat lima waktu ke mesjid dan berjamaah.

"Tidak guna belajar tinggi dan pangkat tinggi tapi solat jemaah tidak dijaga, begitu pesan almarhum ayah yang memang sangat menekankan pendidikan agama," tutupnya.

(Ahmad Yasin)