Jumat, 06 November 2015

MENGAPA ANAK KITA JIKA SUDAH MENGINJAK USIA ABG SEMAKIN MENJAUH DAN JARANG BICARA PADA ORANG TUANYA ???



MENGAPA ANAK KITA JIKA SUDAH MENGINJAK USIA ABG SEMAKIN MENJAUH DAN JARANG BICARA PADA ORANG TUANYA ???

Bagaimana membuat remaja mau mengobrol dengan orangtua?

Bayu adalah putra sulung Farida dan Ronny. Bayu sudah duduk di kelas 3 SMP. Sejak kecil, Bayu bukan anak yang ceriwis tapi sewaktu masih SD ia cukup terbuka pada Ayah Bundanya. 

Setiap pulang sekolah ada saja cerita yang keluar dari mulutnya.
Berbeda 180 derajat dari sekarang. Bayu makin lama jarang mau bercerita, apalagi mengobrol dengan kedua orangtuanya.

Sepulang sekolah, ia lebih senang mendekam di kamar: Bermain gadget, sibuk depan laptop atau sekadar bermain gitar.

“Bay, tadi di sekolah bagaimana?” tanya Farida, biasanya ketika mereka makan malam bersama.
“Biasa saja, Bun,” jawabnya selalu. Singkat.
“Ada kejadian menarik, nggak?”
“Nggak tuh.”
“Sahabatmu, si Tomo, apa kabarnya?”
“Baik.”

Kalau sudah begini, Farida sungguh bingung harus bertanya bagaimana lagi. Ia tak tahu kenapa sekarang Bayu jadi tertutup dan malas bicara. Dengar-dengar, remaja pria makin lama memang makin malas mengobrol dengan orangtuanya.

Ayah Edy, apa resep jitu supaya orangtua bisa mengobrol asyik dengan anak remaja?

Jawaban Ayah Edy:
Ayah Bunda yang baik hati

Mengapa anak remaja kita malas bicara pada orangtuanya? Tentu ada penyebabnya. Penyebab pertama, orangtua sering menyalahkan anak. Kedua, orangtua tidak mau mendengarkan baik-baik cerita anak atau tidak punya waktu untuk mendengarkan. Ketiga, orangtua bicara pada remaja seolah-olah ia masih kecil.

Sekarang mari kita bahas solusi masalahnya:
Ganti kalimat menyalahkan dengan kalimat tanya.

Apakah Ayah Bunda sering menyalahkan anak? Jangan buru-buru menjawab ‘tidak’. Coba ingat-ingat. Apakah Ayah Bunda sering melontarkan kalimat ‘kamu sih...’ atau ‘makanya...’ atau ‘tuh, kan...’. Misalnya ketika Ayah Bunda tahu anak dimarahi gurunya, Ayah Bunda malah berkata, ‘Kamu sih bandel. Kalau murid nggak bandel, guru pasti tidak akan marah’. Atau ketika ia bertengkar dengan temannya, Ayah Bunda malah berkata ‘Tuh kan... temanmu itu sepertinya memang kurang baik. Kamu dari dulu malah membela dia terus’.

Waduh, tak heran bila remaja jadi malas bicara pada orangtuanya. Bukannya mendapat dukungan, mereka malah dipersalahkan.
Saran saya, gantilah kebiasaan menyalahkan dengan kebiasaan bertanya. Ketika ada suatu peristiwa, tanyakan padanya ‘Menurut kamu bagaimana?’ atau ‘Bagaimana perasaanmu tentang hal itu?’ atau ‘Kok bisa begitu? Kenapa, ya?’

Nada bicara juga penting. Gunakan nada bicara yang menunjukkan Anda benar-benar penasaran terhadap ceritanya. Selain itu, fokuskan perhatian Anda padanya. Jika anak berbicara lalu Ayah Bunda menanggapi sambil sibuk dengan gadget atau sibuk dengan kegiatan lain, anak tentu merasa tidak dihargai dan tak didengarkan. Akibatnya, lain kali ia malas bercerita. ‘Ah, buat apa cerita? Toh tidak didengarkan juga’, begitu mungkin pikir mereka.

Ganti menasehati dengan mendengarkan
Kiat kedua ini masih berkaitan dengan kiat pertama. Orangtua hobi sekali menasehati. Padahal, nasehat terbaik adalah mendengarkan. Setelah mendengarkan baik-baik, gali lagi ceritanya lebih dalam dengan melontarkan pertanyaan.
Yang perlu diingat, jangan berikan pertanyaan yang langsung menohok. Awalnya, lontarkan saja dulu pertanyaan-pertanyaan yang umum karena anak pasti sedang menilai bagaimana reaksi orangtuanya: friendly atau offensive. Jika reaksi orangtua friendly, anak akan merasa aman dan bisa bercerita lebih banyak. Sebaliknya bila offensive, anak pasti akan menutup diri dan tidak mau bercerita lagi.

Misalnya ketika anak bercerita tentang beberapa kawan sekelasnya yang bolos beramai-ramai, tahan diri untuk langsung menasehati ‘Kamu jangan seperti itu ya!’. Dengarkan ceritanya baik-baik lalu lontarkan pertanyaan yang umum:
“Siapa saja yang ikut bolos?”
“Mereka bolos saat pelajaran apa?”
“Lalu, mereka ke mana?”
“Bolosnya spontan atau sudah direncanakan?”

Setelah keakraban terjalin, selanjutnya lontarkan pertanyaan yang menyangkut sisi positif-negatif kejadian ini.
“Menurut kamu, mengapa sih teman-teman membolos?”
“Efek positifnya apa ya?”
“Kalau efek negatifnya apa?”

Terakhir, barulah utarakan pertanyaan yang bisa menggiringnya:
“Kalau membolos, ada untungnya nggak ya?”
“Lebih banyak untung atau ruginya?”
“Kalau membolos lalu ketahuan kepala sekolah, kira-kira bagaimana tuh?”
“Kalau adikmu yang masih SD membolos, lalu dia dibujuk temannya nongkrong-nongkrong, merokok, atau berbuat yang tidak-tidak, perasaanmu bagaimana? Kamu suka nggak?”

Ketika kita melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, sebenarnya kita sedang mengajaknya berpikir dan membangun kesadarannya.

Dan ini jauh lebih kuat dari nasehat atau kata ‘awas’.
Ciptakan suasana yang menyenangkan dan kodusif.
Ketika anak malas berbicara, mungkin karena suasana dan kondisinya memang tidak asyik untuk mengobrol.

Bayangkan, anak baru pulang sekolah, capek dan lapar, lalu diajak mengobrol oleh Ayah Bunda. Tentu ia akan menanggapi dengan acuh tak acuh. Sama saja dengan kita, bukan? Sepulang kantor, kita juga pasti ingin beristirahat, membersihkan badan atau santai menonton TV dahulu eh tahu-tahu sudah di berondong berbagai pertanyaan. Dan seterusnya.....dan seterusnya....