Kamis, 07 Januari 2016

Hi, Blogger! Ikuti Yuk Lomba Karya Tulis Bahari Berhadiah Rp 500 Juta

Kementerian Pariwisata menyediakan hadiah senilai Rp 100 juta untuk penulis terbaik (best of the best) lomba karya tulis bertema bahari yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Adapun total hadiah untuk semua pemenang sebesar Rp 500 juta.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, Menteri Perindustrian, Saleh Husin, dan Mantan Gubernur Sulut, Sinyo Harry Sarundajang berfoto bersama dalam kunjungannya bersama para pemimpin redaksi di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, NTT, Minggu 29 November 2015. Di pulau tersebut hidup sekitar 2.500 ekor komodo dan di Pulau Komodo ada 3.000 ekor. (Beritasatu.com/Primus Dorimulu)

Hal itu disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya ketika bertemu dengan Panitia HPN 2016 yang dipimpin Penanggung Jawab HPN 2016 Margiono di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa siang (5/1).

Juga hadir dalam pertemuan itu Asisten III Gubernur NTB bidang Administrasi Umum dan Kesra, H. Lalu Syafii, Ketua Dewan Kehormatan Daerah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB Ismail Husni dan Ketua PWI NTB Sukisman.


"Lomba ini kami selenggarakan untuk mendorong kecintaan masyarakat umum dan khususnya wartawan pada dunia bahari dan wisata nusantara," ujar Menteri Arief Yahya.

Menurutnya, wartawan dan media adalah salah satu elemen penting dalam konsep pentahelix atau segilima yang dikembangkan Kementerian Pariwisata untuk mendorong dan meningkatkan sektor pariwisata di tanah air.

Selain wartawan dan media, empat komponen lain dalam konsep pentahelix itu adalah akademisi, pengusaha, komunitas dan pemerintah.


"Kelima elemen itu harus bekerja sama, bahu membahu. Hanya dengan itu kita bisa mencapai target pembangunan sektor pariwisata seperti 20 juta kunjungan turis asing pada 2019," kata Menteri Arief Yahya lagi.
"Dewan juri lomba pun harus mewakili kelima elemen ini," sambungnya.

Sementara kordinator lomba, Rita Sri Hastuti dari PWI, mengatakan, panitia beraharap media massa berpartisipasi dengan mengirimkan tulisan wartawannya yang pernah dimuat di media masing-masing.

Peserta lomba, masih menurut Rita adalah wartawan yang bekerja aktif dan diakui pada satu perusahaan media massa cetak, atau media daring (online). Bisa juga penulis lepas yang mempublikasikan karyanya di salah satu media massa atau media sosial, atau pemilik blog yang mempublikasikan karyanya di blog pribadinya.

Peserta dapat memilih satu dari tiga tema yang disediakan panitia. Pertama, Wisata Bahari yang berkaitan dengan kearifan lokal bersifat bahari yang meliputi aspek budaya, seperti ritual, tradisi, gaya hidup, mata pencarian, dan kuliner.

Tema kedua, Wisata Halal yang berkaitan dengan program Kementerian Pariwisata menggarap wisata halal secara serius, diawali dengan prestasi Pemerintah NTB mendapat penghargaan World’s Best Halal Tourism Destination yang diadakan di Uni Emirat Arab.

Tema terakhir, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Lombok Tengah yang merupakan potensi kekuatan pariwisata di NTB merupakan satu dari 10 destinasi wisata baru yang dikembangkan pemerintah.

Mengenai kriteria penulisan, Rita mengatakan, syarat utama adalah karya tulis yang diikutsertakan dalam lomba adalah hasil liputan, bukan fiksi, bukan berita lempang (straight news).

Karya tulis juga harus sudah disiarkan atau dipublikasikan di media massa atau media sosial (blog) pada kurun waktu Januari 2015.

Karya tulis dikirim dalam amplop tertutup dengan mencantumkan kode Lomba Penulisan Pariwisata di sudut kiri amplop dilengkapi dengan pemuatan di media (cetak, daring, blog).

Karya tulis dikirim kepada Panitia HPN 2016di Gedung Dewan Pers Lantai 4, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, atau Humas Kementerian Pariwisata di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, paling lambat tanggal 22 Januari 2016 dalam format A4, rangkap 5, dan disertakan kopi pemuatan di media.

"Pengumuman pemenang akan disampaikan di arena Hari Pers Nasional di Mataram, Lombok," demikian Rita.