Rabu, 06 Januari 2016

Inilah 'Iron Dome" Tameng Kubah Besi Israel yang Terkenal


Tel Aviv Dijuluki tameng Kubah Besi alias Iron Dome, sistem antirudal Israel ini efektif melindungi Negeri Zionis. Bagaimana cara kerjanya?

Akhir pekan lalu, Israel mengumumkan sistem pencegat rudal ini sukses menaklukkan dua rudal Palestina yang masuk ke wilayah negaranya. Sementara operasi militer Zionis saat itu masih terus membombardir Jalur Gaza, Palestina.

Dikembangkan Rafael Advanced Defence System, jaringan ini terdiri dari batere rudal yang dijajarkan. Mereka bekerja bersamaan dengan respon cepat terhadap pusat kendali dan pelacak rudal. Roket atau rudal kecil seperti Qassam dan Grad, serta tembakan artileri dari Jalur Gaza dengan mudah disingkirkan.

Namun tak seperti pelindung rudal berskala besar yang dikembangkan Amerika Serikat (AS) dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sistem antirudal AS dan NATO membutuhkan daftar persetujuan kawasan, agar batere pencegat rudal yang ditempatkan, bisa menundukkan rudal yang lebih besar.

Dome milik Israel hanya untuk rudal jarak pendek, tak lebih dari 70 kilometer.

Iron Dome yang tadinya disebut Golden Dome ini juga tak seperti sistem laser baru yang dikembangkan AS dan Israel, Nautilus. Iron Dome tak secanggih Nautilus, hanya menggunakan teknologi konvensional seadanya.

Situs peluncuran yang bisa diprediksikan dan terbatasnya rudal yang menyerang mereka, seperti Hamas di Gaza yang hanya memiliki Qassam dan Grad, berperan besar dalam akurasi Iron Dome.

Berdasarkan perhitungan rata-rata, Iron Dome mengeliminasi 90% serangan roket dari Palestina, sejak Maret 2012. Target lainnya yang di luar jangkauan Iron Dome, menjadi sasaran serangan Israel.

Komoditas ini pun menjadi salah satu persenjataan militer yang paling dicari oleh pemerintah Israel untuk melindungi diri dari serangan di kawasan. Mereka dengan cepat melacak produksi dan memikirkan penempatan operasionalnya.

Meski begitu, keterbatasan sistem ini bisa membahayakan. Yakni kedekatan penempatan sistem dan lokasi peluncuran roket. Hal ini mengurangi waktu reaksi potensial Iron Dome.

Belum lagi biayanya yang dikatakan mahal dibandingkan harga roket Hamas yang lebih murah. Satu unit Iron Dome biayanya 50 kali lipat rudal Qassam berteknologi rendah. Apalagi, sistem secara otomatis menembakkan dua rudal pencegat.

Israel yang memperketat pertahanan dengan Iron Dome, tentunya sudah diantisipasi Hamas yang mencari taktik baru. Hamas mencari roket atau rudal dengan jangkauan lebih jauh dan melakukan kerusakan yang lebih besar.

Perbatasan Gaza-Mesir yang menjadi pintu pasokan senjata untuk militan Hamas, kini menjadi target sasaran sistem pertahanan itu. Bisa dipastikan, suasana bakal meningkat dan merusak perjanjian damai yang dimediasi Mesir.

Secara finansial, Iron Dome bukanlah benda murah untuk negara seukuran Israel. Pengetatan anggaran di AS yang donor utama mereka, membuat Rafael mengkaji ulang sistem itu dan mengurangi jumlah baterenya.

Per 2013, AS memberikan US$680 juta untuk mengembangkan Iron Dome dengan syarat Israel mau membagi teknologinya. Kontraktor pertahanan AS, Raytheon, kini bekerjasama dengan Rafael untuk bersama mengembangkan dan memasarkan.

Pekan ini, Iron Dome masih bekerja dengan baik mencegat rudal dan roket yang hendak menimpa Kota Ashkelon, sekitar 120 kilometer dari Gaza. Meski Israel kabarnya sudah berhenti menembaki Gaza, sepertinya Iron Dome masih terus jadi andalan.