Rabu, 13 Januari 2016

NTT Terus Berbenah Menjadi Destinasi Wisata Dunia

NTT Terus Berbenah Menjadi Destinasi Wisata Dunia

Berbagai pihak yang peduli terus mendorong Nusa Tenggara Timur (NTT) mewujudkan tekadnya menjadi destinasi atau daerah tujuan wisata dunia karena potensi pariwisatanya tidak kalah bersaing dengan daerah lain di Indonesia.


"Namun tekad itu bisa terwujud kalau objek-objek wisata serta seni budaya dan kerajinan yang dimiliki dipelihara dan dikembangkan secara baik dan terus-menerus sehingga diketahui dan menarik minat para wisatawan ke NTT," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Welly Rohi Mone kepada Antara di Kupang, Selasa.

Karena menurut dia, menjadikan NTT sebagai destinasi wisata dunia, maka semua pengelolaan aset wisata dan destinasi harus disesuaikan dengan pasar pariwisata dunia.

Artinya, masyarakat diimbau untuk menjaga, memelihara destinasi wisata kita. Juga memelihara aset-aset seni dan budaya, kerajinan ekonomi kreatif dan mempromosikan ke daerah bahkan negara lain secara lengkap, sehingga menarik wisatawan.

Seperti apa yang telah dilakukan Senator asal NTT Adrianus Garu yang berkesempatan mempromosikan potensi pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) di lima negara di Benua Eropa beberapa waktu lalu ketika berkesempatan mengunjungi benua itu merupakan langkah yang perlu diapresiasi.

Lima negara itu ketika bersama sejumlah anggota DPD RI melakukan kunjungan kerja di Belanda dalam rangka kerja sama antarparlemen, ialah Belanda, Italia, Belgia, Prancis dan Meksiko.

Mereka menyerahkan patung komodo dan film tentang komodo kepada Presiden Parlemen/Senat Belanda Ms. Ankie Brokerknol agar dipromosikan ke warga negaranya.

Selain di Belanda, demikian Rohi Mone para wakil rakyat itu juga telah mempromosikan potensi Nusa Tenggara Timur kepada petinggi-petinggi negara lainnya. Sebab jika NTT dipromosikan secara luas maka wisatawan dan investor akan semakin tertarik mengunjungi dan berinvestasi di NTT.

Pemerintah Daerah NTT tengah menangkap peluang ini dengan cara menyiapkan data-data yang akurat dan komprehensif terkait potensi pariwisata dan potensi sumber daya alam dan manusianya.

"Ini semua dalam rangka mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia termasuk ke NTT di tahun 2019," katanya.

Untuk maksud itu pula, katanya secara nasional Kementerian Pariwisata Republik Indonesia telah melakukan serangkaian kegiatan promosi yang sangat massif dan agresif melalui berbagai media internasional.

Salah satunya kata dia adalah dengan meluncurkan program TV bertajuk "Wondernesia" di saluran Discovery dan TLC di seluruh Asia Pasifik mulai tanggal 10 Desember 2015. Program berdurasi 23 menit dan terdiri dari 12 episode ini diproduksi oleh DNAP (Discovery Networks Asia Pacific) dalam format yang unik.

"Wilayah Asia Pasifik terutama China, Jepang, Australia, serta Malaysia dan Singapura merupakan pasar utama pariwisata Indonesia. Kelima negara ini tahun lalu memberikan kontribusi hingga 61% dari total kunjungan 9,2 juta wisman ke Indonesia," kata Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT itu.

"Negara kita punya banyak tempat dan budaya yang spektakuler namun kurang dikenal oleh dunia. Melalui acara TV Wondernesia ini kekayaan alam dan budaya kita itu ditampilkan secara kreatif dan menarik untuk konsumsi masyarakat internasional," demikian disampaikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik program Wondernesia yang dibuat untuk konsumsi masyarakat internasional, utamanya yang berada di kawasan Asia Pasifik.

Program Wondernesia merupakan upaya promosi melalui media televisi internasional dengan pendekatan POS (paid media, owned media, dan social media) dalam meningkatkan awareness masyarakat mancanegara terhadap branding Wonderful Indonesia sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisman dari kawasan Asia Pasifik antara lain China, Jepang, Korea, Australia dan Selandia Baru, India, Hong Kong, maupun Taiwan "Saksikan Wondernesia dan buktikan apa yang kami maksud dengan Wonderful Indonesia," katanya.

Investor Daily

Herry Barus/HRB