Sabtu, 13 Februari 2016

ABG Dominasi Pembelian Kondom Jelang Valentine

ABG Dominasi Pembelian Kondom Jelang Valentine

Perederan alat kontrasepsi atau pencegah kehamilan, seperti kondom, sangat meluas. Apotek, minimarket bahkan toko kelontongan di lingkungan permukiman menjual secara bebas, tanpa ada aturan penempatannya. Anak-anak pun dapat menjangkaunya.

Menjual kondom, bagi pramuniga atau pelayan toko gampang-susah. Mereka sering kikuk ketika melayani pembeli. Namun tidak mungkin bertanya, apa status dan untuk digunakan siapa.

Itulah pengalaman sejumlah pelayan toko kepada Tribun Kaltim, Kamis (121/2) kemarin.

Rahma, seorang Apotek Kimia Farma, mengatakan tidak hanya para orang tua yang menjadi pelanggan, anak muda pun turut membeli. Bahkan pembeli dari kalangan remaja lebih dominan.

"Kalau orang tua itu biasanya beli yang isi banyak biasanya malam Jumat, kalau anak muda biasanya yang isi 3 paling sering malam Minggu, lebih praktis dan murah harganya. Di sini yang isi 3 paling sering beli," ujar Rahma.

Rahman mengaku kadang miris ketika menjumpai anak di bawah umur membeli kondom di tempatnya. Namun demikian, ia sadar, perdagangan alat kontrasepsi bukan seperti obat atau minuman keras yang beberapa di antaranya memiliki aturan khusus. Kondom bebas diperjualbelikan, siapa saja boleh.

Dengan demikian, pihak penjul tidak dapat melarang pelanggan meskipun mengetahui bahwa pembeli merupakan anak muda, bahkan di bawah umur.



"Kalau pengantin baru nggak mungkin beli kondom, kan? Emang dia nunda? Kami bisa tahulah yang ABG, pasti sesuatu gitu," sindir pegawai yang telah mengabdi di Kimia Farma selama 13 tahun tersebut.

Mengenai kalangan apa yang paling banyak menjadi pembeli kondom, Kepala Apotek Kimia Farma Dr. Sutomo Samarinda, Muhammad Ridwan, mengaku tak bisa memperkirakan. Hal ini dikarenakan ia tidak mengetahui status pembeli.

“Sekarang anak kuliahan pun bisa sama seperti orang yag sudah menikah. Kemudian, kami juga merasa tak enak bertanya kepada pembeli, saat dia membeli alat kontrasepsi tersebut. Pertanyaan, seperti “apak sudah menikah?” atau “Untuk apa kondom tersebut” bisa dianggap menyinggung bagi konsumen kami,” kata Muhammad Ridwan.

Seorang pramuniaga apotek di kawasan Balikpapan Super Block, yang enggan namanya dipublikasikan, mengaku pihaknya tidak dapat mencegah pelanggan yang membeli kondom.

"Saya cuman bisa nyebut dalam hati saja kalau ada anak ABG datang kemudian membeli kondom. Bahkan pernah ada anak kecil yang beli, saya tanya, siapa yang suruh? lalu dia jawab, mamah yang suruh," kata dia.

Rata-rata yang beli di sini orang-orang hotel dan apartemen di kawasan BSB. Rata-rata setiap hari bisa terjual satu kotak kondom. "Ini sudah terjual 2 kotak," tuturnya.(M20/ama/m11/Warta Kota)