Rabu, 03 Februari 2016

Pengin Segera Punya Anak Tidur di Rumah Janda Muda

Pengin Segera Punya Anak Tidur di Rumah Janda Muda

APA pula hubungannya, ingin punya momongan kok tidur di rumah janda muda? Tapi itulah kiat Subardan, 46, warga Bojonegoro (Jatim). Karena nginepnya di rumah Watini, 20, diam-diam, istrinya pun menggerebeknya. Usut punya usut, Subardan tak hanya numpang tidur, tapi juga meniduri si janda. Pantes!

Target orang berumahtangga kan untuk melanjutkan keturunan. Maka rumahtangga tanpa anak pasti terasa gothang (tidak lengkap). Berbagai cara dilakukan bila mana sang istri tak juga berproduksi. Bila memang istri atau suami yang mandul, jalan terbaik hanyalah pisah, untuk mengejar “ketertinggalan” itu. Tapi bagi pasangan yang tidak siap, banyak yang potong kompas dengan kawin lagi, meski itu menyakitkan pihak pasangan.

Rupanya Subardan warga Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, juga menempuh cara demikian. Lantaran istrinya majir (mandul), dia memilih kawin siri diam-diam, sehingga Ny. Endah, 40, pun lapor polisi dan terjadilah penggerebekan itu.

Subardan – Endah menikah sudah lima belas tahun lamanya, tapi tak juga punya momongan. Padahal secara pisik, Ny. Endah ini memang indah, yang bagi kebanyakan lelaki akan menganggap: enak dikeloni dan perlu. Tapi apa artinya, jika dikeloni sampai tiga pelita tak juga membawa hasil, tiap malam kringeten thok!

Ingin sebetulnya Subardan menceraikan istrinya itu, tapi tidak tega. Sebab Bung Karno pernah bilang: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Baik Sejarah Indonesia karangan Anwar Sanusi atawa yang karangan Suroto (buku pegangan pelajar SD-SMA tahun 1960-an). Sebab ditilik sejarahnya, Subardan sampai bisa jadi pamong segala itu berkat dukungan istri yang di kampungnya memang banyak famili. Karenanya untuk mencampakkan begitu saja, Subardan tak berani. Takut kuwalat seperti jambu mete, kepala di bawah gara-gara dia berani sama jambu kluthuk.

Cara-cara yang tidak elegant pun kemudian di tempuhnya. Diam-diam dia menikah siri dengan janda muda Watini dari Sukosewu. Sejak perkawinan diam-diam itu Subardan sering tidur di rumah istri mudanya, maklum dalam rangka mengejar target. Sebagai pamong, ini lebih penting dari target PBB maupun target KB di kampungnya.

Awalnya istri di rumah tidak curiga, karena Subardan memang pakar mengemas alasan semasuk akal mungkin. Istri bisa dikadali, tapi mata orang lain yang sering melihatnya, mana bisa dibohongi. Maka si mulut ember itu ada yang cerita pada Ny. Endah bahwa suaminya suka nginep di rumah janda muda di Sukosewu. “Tapi ini hanya informasi Mbak, coba diklarifikasi dulu, takut salah.” Kata sang informan.

Tentu saja Subardan membantah isyu itu. Anehnya, meski sudah mulai tercium dia tidak menghentikan aksi nginepnya di rumah Watini. Endah yang sudah makin lengkap memperoleh data, segera lapor polisi Polsek Sukosewu dan minta dilakukan penggerebekan. Hasilnya betul 100 %, pak pamong desa memang ada di situ. Dalam pemeriksaan dia mengaku sudah menikah dengan Watini. Mana suratnya? “Kami nikah siri kok Pak, yang penting kan halal dan bisa segera punya momongan.” Ujarnya santai.

Jadi di situ nggak hanya numpang tidur saja, kan?