Senin, 17 Oktober 2016

Aku Masih Bernafas Meski Tanpamu, Karena Mencintai Diriku Sendiri itu Lebih Penting dari Apapun

Dia, merajut memori dalam diam. Kesunyian ini begitu memekakkan telinga. Dalam hati, mengetahui secara pasti bahwa kenangan hari ini akan menjadi satu lagi ingatan traumatis. Ia hanya diam dan aku menoleh. Bagaikan bernafas dengan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.
Hatinya seluas samudra. Awalnya, aku jatuh cinta dengan dengkuran lembut dan detak jantungnya yang begitu hidup dan begitu dalam. Baru kusadari betul bahwa aku bukanlah satu-satunya ikan di zona neritiknya.
Aku tahu betul, sejak aku berusia 5 tahun bahwa mencuri mainan dari anak lain bukanlah hal yang terpuji. Mainan pertama yang kucuri dari temanku adalah boneka anjing yang sudah bau lembab. Aku tidak pernah mencuri mainan yang masih baru dan mengkilap. Begitu pula orang yang sekarang ini duduk di sampingku.
Entah sudah berapa banyak orang yang pernah menghirup aromanya di dalam mimpi indah yang tak berkesudahan. Entah seberapa banyak kartu As yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Entah sudah berapa kali kakiku melangkah maju hendak menutup halaman terakhir dari kisah cinta kita.
Apakah momen krusial ini menjadikanku orang yang buruk? Apakah rasa bersalah karena tidak meninggalkannya sejak awal akan menuai cemooh orang lain? "Tidak." Jawabku samar di antara lamunannya. Aku bergegas pergi dan pulang ke rumahku sendiri. Tersenyum tipis seperti hujan gerimis di siang hari yang terik. Lebih membenci diriku yang sekarang ini, memutar kembali miliaran ingatan seperti proyektor usang yang terbengkalai.
Telepon genggam bergetar dalam saku jaketku. Sepuluh pesan masuk kudapati dari sahabatku. Tidak ada satupun pesan dari dirinya. Aku masih berharap. Pukul sebelas malam. Aku masih berharap. Tengah malam lewat lima menit. Aku masih berharap. Pukul tiga subuh, mataku belum terpejam.
Pertengkaran kami seabstrak lukisan Picasso. Aku masih mengharapkannya memecah kesunyian di tengah perang dingin ini. Berharap dia akan membuat lelucon garing khas dirinya.
Diam sejenak, aku merasa bahwa rohku mengapung di dalam kesepian yang absolut. Aku tertidur setengah jam kemudian.
Aku terbangun pukul tujuh pagi. Menatap layar handphone yang berpendar. Dua puluh pesan selama aku tertidur pulas. Semuanya dari sahabatku. Aku bergerak malas dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurku. Membaca semua pesan yang tertinggal dari para sahabatku. Seketika aku merasa lega. Aku bernafas pelan. Seumur hidupku, belum pernah diriku merasa serileks ini.
Ibuku memberiku roti tawar untuk sarapanku. Ayahku meminum secangkir kopi pahit tanpa gula. Kakak-kakakku bersenandung pelan dan menggosok gigi di wastafel. Aku termenung sembari mendengar irama hujan yang terdengar seperti ratapan. Mereka menanyakan keaadanku. Teman-temanku tidak berhenti mendengarkan celotehanku. Aku kembali ke kamarku sendiri, mengambil pena dan menulis lagu diatas kertas bergaris.
"Apa kabar?" Pesannya muncul di layar handphone. Aku tidak membacanya. Aku meneruskan tulisanku. Aku tidak pernah merasa sebersyukur itu dalam hidupku. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Teman-temanku menopangku dengan nasehat dan candaan mereka yang efektif membuatku bangkit dari kesedihanku. Mereka tidak mencelaku.
Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Keluargaku mengisi hari-hariku. Dalam hati berjanji bahwa aku tidak akan lagi mengejar ilusi. Aku merasakan kekuatan untuk bangkit. Lirik demi lirik yang kutulis, akord dari laguku yang kususun melalui gitar akustikku yang berusia 6 tahun. Seniman hebat yang menginspirasi diriku melalui karya mereka.
Aku masih bernafas.

Aku masih bernafas.

Aku masih bernafas.
Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir bahagia. Sejak awal aku tidak pernah ingin tahu apa yang terjadi di novel The Notebook. Mungkin memang tidak semua cerita cinta berakhir tragis. Tirai tidak pernah menutup di dunia nyata. Dengan kekuatanku yang baru, aku bergegas menyisir rambutku dan memakai setelan terbaikku.
Kami pernah saling mencintai. Kami pernah mengalahkan dunia bersama-sama seperti dalam film superhero. Rasa benciku kepadanya sebesar rasa cintaku kepadanya. Namun apa yang bergerak pergi tak bisa kita dihindari.
Aku belajar bahwa mencintai diri sendiri dan mencintai apa yang kita miliki jauh lebih penting dibandingkan menginginkan bintang yang terlalu jauh untuk diraih. Aku belajar bahwa kesalahanku tidak menjadikanku orang yang buruk. Aku belajar bahwa hati manusia tidak akan pernah terlalu besar untuk memaafkan. Aku belajar bahwa kita tidak akan bebas dari masalah hidup. Dengan mantap, aku mengambil langkah kecil namun pasti.
Aku masih bernafas.
idntimes.com