Rabu, 12 Oktober 2016

Cinta Memang Tak Memandang Agama, Tapi Cinta Tak Bisa Menyatukan Agama

Cinta Memang Tak Memandang Agama, Tapi Cinta Tak Bisa Menyatukan Agama

Itu kata-kata pertama yang kuucapkan saat menjemputmu di Bandara Sultan Thaha. Kepulanganmu dari negeri Paman Sam adalah hal yang selalu kita berdua tunggu, agar bisa saling melepaskan rindu. Tetapi kali ini lain, karena mungkin ini kali terakhir aku menemuimu.

Tidak ada kata-kata hanya sebuah senyum manis yang selalu membuatku ragu untuk menjauh darimu. Tapi kali ini tidak. Aku sudah memantapkan hati, tidak akan aku luluh lagi. 6 tahun sudah cukup bagiku untuk mengenalmu & mencoba mengenal Tuhanmu.

Aku melangkah pergi, menjauh darimu, menjauh dari kehidupanmu. Tak perlu banyak kata untuk menjelaskan semuanya. Dari awal kita sudah tahu konsekunsi dari hubungan kita. Dari awal kita sudah tahu tak akan ada jalan dari hubungan kita.

Waktu itu hanya aku, kamu dan cinta kasih luar biasa yang membuat kita bisa bersama dalam waktu yang cukup lama. Walaupun setiap detik kita sadar bahwa jurang itu akan semakin dalam memisahkan kita. Walaupun salah satu dari kita sudah berusaha menyebrangi jurang itu untuk bisa bersama dalam satu sisi. Tetapi hasilnya tidak sesuai hati nurani.

Seluruh teman & keluarga berusaha menasehatiku agar aku menjauhimu, agar aku tetap menjaga imanku. Tetapi tak sedikitpun mengurangi cinta kasihku padamu. Tetapi tahukah kamu? Dalam hati kecilku selalu terbersit keinginan untuk mengenalkan kamu pada Tuhanku.

Terbayang dirimu memakai kain sarung dengan baju koko lengkap dengan pecinya. Alangkah tampannya. Tahukah kamu bahwa dalam sujudku selalu kusebut namamu? Kuinginkan ikatan suci yang kekal untuk kita berdua?

Cinta luar biasa atau cinta buta hanya berbeda tipis. Kasihmu yang tulus membuatku takut kehilanganmu, membuatku ragu berjalan tanpamu, membuatku mengalah dan berusaha mengenal Tuhanmu agar kita bisa satu. Entah bagaimana caranya tiba-tiba untuk pertama kali dalam hubungan kita aku menemanimu ke Gereja.

Senyum bahagiamu semakin membuatku melupakan Tuhanku. Uluran tangan terbuka keluarga serta teman-temanmu membuatku semakin larut. Larut dalam setiap acara keagamaan yang engkau yakini. Hidupku semakin menuju ke arahmu dan ke arah Tuhanmu. Tak ada ragu pun tak ada takut. Semua mengalir lancar bagaikan aliran air Sungai Batanghari.

Bisikan tetangga & keluarga semakin santer terdengar ketika usia semakin beranjak tetapi tanda-tanda pernikahan belum juga mendekat. Ditambah hubungan kita dengan adanya perbedaan yang sulit disatukan. Apakah ini jawaban dari Tuhan? Karena ragu mulai menjalari hatiku.

Apakah benar kamu adalah jodohku? Apakah benar harus kutinggalkan agama & keluargaku untuk bisa bersamamu? Dalam keraguan aku bersujud pada Tuhanku yang telah lama kutinggalkan semenjak aku berusaha mengenal Tuhanmu.

Aku tersentak dari alam bawah sadarku ketika seorang pemuda muslim datang mendekatiku. Tanpa ada perasaan malu & tanpa ada keyakinan apapun terlontar kata-kata dariku. “Kalau kamu memang serius datang ke rumah & lamar aku.” Dan inilah momen saat aku mulai memantapkan hatiku untuk pergi dari sisimu.

Sungguh bukan karena kesalahanmu ataupun kekuranganmu, sungguh bukan juga karena aku terpesona kepada lelaki lain. Tetapi lebih karena hati kecilku mengatakan bahwa tidak seharusnya kutinggalkan Penciptaku demi ciptaanNya. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu terbaik bagi kita.

Harapanku hanya satu bahwa dirimupun akan menemukan sosok pendamping hidup yang seiman yang bisa membimbing anak-anakmu untuk berdoa. Seperti mimpi-mimpi yang sering kamu katakan padaku tentang gambaran keluarga kecilmu.

idntimes.com